Selasa, 06 April 2010

KONDISI JALAN DI KAB MAJALENGKA, MERATA AMBURADUL

Pada tanggal 27 Maret 2010, aku berangkat menuju lokasi tempat rapat di dinas pendidikan Kab Majalengka. Baru saja memasuki jalan raya ciamis cikijing, tiba-tiba sebuah colt mini oleng, tak lama kemudian kendaraan itu jungkir balik. Penyebab kecelakaan kendaraan, bukan jalan licin, bukan tumburan sesama kendaraan, tapi karena jalan penuh lubang. Aku ngeri melihat anak-anak terjepit, oramng tua meronta-ronta, agar bisa keluar dari jepitan kendaraan. Masyarakat setempat segera memberikan pertolongan.
Seseorang disampingku berkata pula, kemarin juga motor terjungkal pak di sini, yang lainnya turut nimbrung, hampir tiap hari saya melihat kecelakaan kendaraan di wilayah kita, tutur seorang pengojek.
Presiden terus berganti, Gubernur terus berganti, Bupati terus berganti, Para Camat terus berganti, namun jalan tetap tidak diganti, payah yeuh majalengka .....!

CIPTAKAN GENERASI SUSNO BERIKUTNYA

Saya mengenal Susno Duaji, sosok seorang Jenderal di Kapolri, pada saat ia menjabat sebagai Kapolda Jabar. Sikap dan karakternya tegas, bicaranya lugas dan mantap, kepribadiannya lembut. Itulah yang terlukis di benak saya sewaktu memberikan sambutan dalam rangka ramah tamah dengan seluruh aktivis Organisasi Persatuan Umat Islam ( PUI ) se-Jawa barat di Bandung pada tahun 2008.
Tak lama kemudian, ia naik jabatan dan hijrah ke Jakarta untuk menduduki Posisi Ka Bareskim Mabes Polri. Selang beberapa waktu kemudian, kisruh sekitar kasus Kristalisasi KPK, lagi-lagi seorang Susno, berperan aktif dalam melambungkan perseteruan KPK dan POLRI, dalam kasus Korupsi Pengadaan Alat Komunikasi oleh Direktur Masaro Asyabab, Anggoro Wijaya, yang hingga kini masih buron. dari sini, lahirlah istilah tendi CICAK MELAWAN BUAYA, yang dikumandangkan oleh seorang Susno.
Setiap mendengar kata Susno dalam berbagai media, seolah saya merasa alergi. Waktu terus berjalan, sejarah pun setiap detik terus terukir, hingga dagelan berikutnya dipentaskan dalam cerita Bank Century. Belum juga tuntas kasus Centuri, dagelan berikutnya dipentaskan oleh seorang Susno, dalam jumpa pers dengan sejumlah media masa baik lokal maupun asing, tentang penyimpangan dan penggelapan pajak di tubuh POLRI, senilai 25 milyar.
Semula perkataan Susno dianggap siulan belaka, namun sesuai perjalanan waktu, sunami penyelewengan  dan kebobrokan, mengguncang   tubuh negeri ini, sehingga tak terelakan lagi, Petinggi Polri, Kejaksaan Agung dan Petinggi pegawai pajak, banyak yang dicopot dari jabatannya, akibat ulah perbuatannya. Alhasil asumsi sementara rakyat kecil bertanya, masih adakah pejabat pemerintah yang baik, jujur, amanah dan takut dosa ? Jawaban sementara suara rakyat kecil sampai detik ini serempak, barangkali sudah tidak ada ! Karena sejak dulu, memang negeri ini telah dihuni keturunan bangsa munafik, yang terus akan regenerasi dan menghasilkan keturunan pribadi munafik pula. Pertanyaan berikutnya, andaikan hasil regenerasi bangsa ini, menghasilkan Susno-Susno baru yang terus mengungkap dan membrantas tabir kepalsuan tanpa batas dan tanpa pandang bulu, yang dilakukan para pemimpin negeri ini dari mulai pimpinan tertinggi sampai terendah, tentulah negeri ini kan subur makmur loh jinawi, sejahtera aman sentosa. 
Selamat untuk Pak Susno, saya salut padamu, andalah sesungguhnya seorang pahlawan sejati, aku keliru menilaimu..

Rabu, 02 Desember 2009

SMP PUI MUKTISARI CINGAMBUL DAN TOKOH PUI KEC. CIKIJING


Tisna Amijaya, seorang Bupati Majalengka, pada tahun 1962, berkunjung ke Cageundang untuk meresmikan Gedung koperasi berlantai 2.Selain acara peresmian, juga melihat pengrajin rotan di kampung tersebut. Pada acara jamuan makan siang, ia mengomentari nama kampung untuk di ganti menjadi KARANGSARI. Semenjak itu, kampung tersebut berubah menjadi karangsari. Kunjungan bupati, bukanlah sebatas peresmian gedung koperasi, tetapi juga meresmikan pendidikan sekolah dasar, SD Karangsari.
Bupati Majalengka sebelumnya, Aziz Halim 1958, berkunjung ke Karangsari. Sapari non kedinasan datang ke tempat tersebut, tidak lain, untuk meresmikan Organisasi Persatoean Oemat Islam (POI). Kunjungan tersebut diperakarsai oleh tokoh-tokoh POI cikijing, spt : KH Ma'mun Ghani, KH Uri, KH, Bahar, KH Apandi, dsb.
Dari perjalanan sejarah tersebut, anak-anak didik dari Kampung karangsari, banyak yang melanjutkan sekolah ke berbagai perguruan POI. Para pelajar ini, yang kemudian menjadi kader POI, bertanggungjawab terhadap amal usaha, maka lahirlah SMP PUI MUKTISARI, yang sebelumnya, lembaga pendidikan tersebut bernama MTs PUI KARANGSARI.

Kamis, 19 November 2009

KEC. CINGAMBUL, ANTARA POTENSI DAN HARAPAN


Kecamatan Cingambul, merupakan kecamatan Pamekaran dari Kecamatan Induk Cikijing, pada tahun 1985, dan didevinitifkan pada tahun 1996. Kec. Cingambul yang berada di ujung tenggara Kab. Majalengka, berbatasan dengan Kab. Ciamis dan Kab. Kuningan, terdiri dari 13 desa. Desa-desa tersebut : Cikondang, Muktisari, Ciranjeng, Cingambul, Kondangmekar, Cimanggu, Wangkelang, Nagarakembang, Maniis, Rawa, Sadaraja, Cidadap dan Cintaasih.
Dalam kifrah pergerakan pembangunan, Kecamatan Cingambul memiliki segudang potensi, baik berupa home industri, pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan dan yang lainnya.
Desa Rawa dan Nagarakembang, telah tampil dalam home industri kripik, pemasaran antara kota-kota di pulau jawa, bali dan luar pulau jawa. Mengenai ciri khas rasa dan aroma telah begitu pas dan diterima oleh para konsumen.
Kelemahan dari kegiatan home industri kripik : Managemen industri dan pemasaran, belum tertata apik dan ditangani secara serius oleh tim ahli, seperti pada label, hak paten, kemasan, masih terabaikan, sehingga penguasaan pasar kelas menengah ke bawah.
Home industri kripik ini, sebenarnya memiliki potensi tinggi, baik untuk meningkatkan UMR kesejahteraan bagi para pekerja, maupun go internasional, dengan catatan : Pengeloilaan managemen berbentuk perseroan, memiliki hak paten untuk rasa dan bentuk, kemasan dimodernis agar menarik kalangan atas, baik nasional maupun internasional, yang tentunya didukung propaganda pemasaran yang dahsyat. Pasti bisa
Home industri pakaian jadi,terletak di Desa Cimanggu, Nagarakembang dan Cingambul. Produk ini, sebetulnya telah mampu bersaing dengan prodak manapun, namun pengelolaan perusahaan dan pasar, sama belum tertata apik yang mengarah kepada persyaratan industri, sehingga konsumen yang tertarik, berkisar kelas menengah ke bawah.
Industri Pertanian, berlokasi di desa Muktisari, Ciranjeng, Cikondang, Cimanggu, Wangkelang, Maniis rawa, Cidadap, Sadaraja, dan Kondangmekar. Hasil pertanian terdiri dari : Bawang merah, Babai hijau, cabe rawit, bawang daun, dan Singkong. Hasil produksi sepanjang tahun cukup melimpah, namun pemasaran belum ada yang berupaya menempuh kelas menengah atas, apa kerja sama dengan swalayan, waralaba, atau pabrik bumbu, atau mencoba memasarkan ke luar negeri, baik ke negara-negara timur tengah maupun eropa.Negara-negara tersebut, memiliki kesamaan khas dalam ramuan bumbu untuk menghasilkan rasa makanan yang lezat.
Tulisan ini, didasari rasa kepedulian, karena sama-sama orang Cingambul.